Senin, 04 Maret 2013

perbedaan pandangan mengenai Ali bin Abi Thalib


Perbedaan pandangan mengenai  Ali bin Abi Thalib


Ali bin Abi Thalib lahir sekitar 13 Rajab 23 Sebelum Hijriah/599M wafat dan pada   21 Ramadhan 40 Hijriah/661M Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad SAW. Ali bin Abi Thalib adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin, yang merupakan penerus Nabi Muhamad SAW, Abu Bakar Sidiq, Umar Bin Khatab dan Utsman Bin Afan. Ali bin Abi Thalib adalah sepupu dari Nabi Muhammad SAW, dan menjadi menantu Nabi Muhammad SAW setelah menikahi putrinya Fatimah az-Zahra.


Sunni

Sunni memandang Ali bin Abi Thalib sama dengan Sahabat Nabi yang lain seperti Abu Bakar sq, Umar bin Khatab dan Utsman bin Afan.
Sunni menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Radhiyallahu Anhu (RA) yang artinya semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.

Syi'ah

Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib merupakan Imam dan juga Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad SAW, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi'ah lebih meninggikan kedudukan Ali bin Abi Thalib atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar , Umar bin Khattab dan utsman bin Afan. Syi'ah juga meninggikan Hasan dan Husein putra dari Ali bin Abi Thalib yang juga merupakan cucu dari Nabi Muhamad SAW.
Syi'ah juga menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) yang artinya semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.

Sufi

Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) yang berarti semoga Allah memuliakan wajahnya. Hal ini berdasar riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib tidak menyukai menggunakan wajahnya guna melihat hal-hal buruk atau yang kurang sopan sekalipun. Di riwayatkan dalam banyak pertempuran atau duel-tanding, jika pakaian musuh terbuka pada bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali bin Abi Thalib enggan meneruskan duel tanding sampai musuhnya terlebih dahulu memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu al-hikmah dan futuwwah. Dari Ali bin Abi Thalib bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh). Hampir semua pendiri tarekat Sufi, merupakan keturunan Ali bin Abi Thalib sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Contohnya adalah tarekat Qadiriyah yang didirikan Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar